Fakta Seputar Hormon Seks Wanita

Image634632833790518781Hormon seks wanita yang utama adalah estrogen dan progesteron yang diproduksi terutama dalam ovarium pada masa-masa reproduksi. Dalam setiap tahapan kehidupan wanita, fungsi dan produksi hormon seks ini juga bervariasi.

Masa kanak-kanak Meski hormon baru aktif pada usia pubertas, sebenarnya hormon sudah memengaruhi tubuh sejak di dalam kandungan. Apabila kita perhatikan, sering kali bayi yang baru lahir (laki-laki atau perempuan) memiliki payudara yang terlihat besar, terkadang juga diikuti dengan keluarnya sedikit susu.

Hal tersebut terjadi karena mengalirnya hormon estrogen dari tubuh ibu ke janin selama kehamilan. Namun, kondisi ini hanya bersifat sementara dan menghilang dalam beberapa minggu. Meski pada beberapa bayi perempuan pembesaran payudara ini mungkin masih akan tinggal hingga anak berusia 2 tahun sebelum akhirnya benar-benar menghilang.

Pubertas Pada usia ini pelepasan hormon seks akan memengaruhi perkembangan seksual, karateristik seksual, dan kesuburannya. Tonggak penting masa pubertas pada anak perempuan adalah bertumbuhnya tunas payudara, munculnya rambut di daerah pubik dan ketiak, serta haid. Proses pubertas ini berlangsung sekitar 4 tahun.

Selama masa pubertas, kelenjar pituitari seorang gadis mulai meningkatkan sekresi dua hormon kunci, yaitu folicle stimulating hormone (FSH) dan luteinizing hormone (LH). Kedua jenis hormon ini berperan penting terhadap terjadinya pelepasan sel telur dan menstruasi.

Usia dewasa Di samping membantu mengontrol ovulasi, pembuahan, dan kehamilan, estrogen memelihara kekuatan tulang dan membantu mengatur kolesterol. Progesteron bekerja sama dengan estrogen untuk mempersiapkan tubuh wanita menghadapi pembuahan, kehamilan, dan membantu mengatur siklus haid.

Hormon ini juga memegang peran penting dalam pertumbuhan dan mengatur distribusi lemak dalam tubuh perempuan sehingga lebih banyak deposit lemak di bagian paha, bokong, dan pinggul. Sementara itu, testosteron membantu pembentukan otot dan tulang.

Kehamilan Jika sel telur dapat dibuahi dan terjadi kehamilan, terjadi perubahan hormon secara dramatis dalam tubuh seorang perempuan. Biasanya penurunan kadar estrogen dan progesteron yang lazim terjadi pada akhir siklus haid tidak terjadi. Sebagai gantinya, hormon baru, human chorionic gonadotrohin (HCG), diproduksi untuk perkembangan plasenta, merangsang ovarium menghasilkan lebih banyak estrogen dan progesteron yang diperlukan selama kehamilan.

Pada usia kehamilan 4 bulan, plasenta mengambil alih tugas ovarium sebagai penghasil utama estrogen dan progesteron. Hormon ini membuat dinding rahim lebih tebal, meningkatkan volume sirkulasi darah, dan melemaskan otot di rahim sehingga tersedia lebih banyak ruang untuk bayi.

Menjelang kelahiran, hormon lain mengambil alih peran untuk membantu rahim berkontraksi selama dan setelah persalinan. Hormon ini juga merangsang produksi air susu ibu.

Setelah melahirkan Setelah persalinan, kadar estrogen, progesteron, dan hormon lainnya menurun drastis sehingga terjadi perubahan fisik. Rahim akan kembali ke ukuran semula sebelum kehamilan, otot panggul meningkat, dan volume sirkulasi darah kembali normal. Perubahan hormon yang dramatis ini sering kali menyebabkan depresi pasca-melahirkan.

Menopause Perubahan hormon yang signifikan lainnya terjadi saat perempuan memasuki usia menopause. Pada 3-5 tahun sebelum akhir siklus menstruasi, fungsi normal ovarium mulai menurun. Hal ini membuat siklus menstruasi lebih pendek atau lebih lama. Terkadang ovarium menghasilkan estrogen sedikit sehingga dinding rahim tidak menebal hingga akhirnya tidak terjadi menstruasi.

Dalam keseluruhan hidup perempuan, estrogen membantu melindungi jantung dan tulang, selain juga menjaga agar payudara, rahim, dan vagina dalam kondisi sehat. Itu sebabnya, penurunan kadar estrogen selama dan setelah menopause bisa memengaruhi kesehatannya, selain juga memicu gejala yang tidak nyaman.

Kehilangan sejumlah besar estrogen menyebabkan perempuan lebih berisiko terkena penyakit jantung dan osteoporosis. Masalah lainnya adalah vagina menjadi kering dan tidak nyaman ketika berhubungan seksual.

Delapan Mitos Seputar Ibu Hamil

Image6346328308363198101. Bumil suka dandan, bayi yang lahir pasti perempuan.
Kala hamil, calon ibu jadi suka dandan atau sebaliknya, sebenarnya lebih karena faktor keinginan semata. Ya, ada yang ingin tampil cantik, ada juga yang malas bersolek.Yang jelas, jenis kelamin sebenarnya ditentukan oleh kromoson sang ayah. Bila kromosom X dari sperma ayah bertemu dengan kromosom X dari sel telur ibu, maka bayi dipastikan perempuan. Namun, jika kromosom Y dari sperma ayah bertemu dengan kromosom X dari sel telur, maka bayinya laki-laki.

2. Bumil tak boleh pakai cat kuku dan mengecat rambut.
Sebenarnya nail polish tidak bisa menembus kuku, maka tak ada alasan medis untuk melarangnya. Jika hal ini membuat bumil lebih merasa cantik, silahkan saja dilakukan. Mengenai cat rambut, sebagiannya betul. Sama halnya dengan makanan, bumil sebaiknya menghindari kontak dengan bahan kimia, termasuk pewarna rambut. Namun, jika berbahan alami, tak apa.

3. Tak aman bila bumil mandi atau berendam bahkan berenang.
Tidak ada alasan medis bagi bumil untuk tak boleh menikmati mandi. Kecuali ketika ketuban sudah pecah, segera periksa ke dokter. Fakta lain, berenang merupakan olahraga aerobik yang bagus. Baik buat mempertahankan kekuatan otot tubuh secara umum.

4. Bumil makan pakai piring besar janin bisa besar. Bila pakai sendok besar, bibir bayi nantinya tak mungil.
Sebenarnya tak ada kaitannya antara makan menggunakan piring besar dengan "risiko" janin jadi besar. Mungkin yang dikhawatirkan adalah ketika bumil makan dengan piring yang lebih besar sehingga tanpa sadar porsi makannya lebih banyak. Alhasil, asupan makanan jadi berlebihan. Bila itu yang terjadi, janin mungkin jadi terlalu besar. Yang dianjurkan justru ibu mengonsumsi makanan dengan porsi sedikit tapi sering dan tanpa melupakan menu makanan bergizi seimbang.

Mengenai sendok besar akan memengaruhi bibir bayi, sebenarnya itu tak ada kaitannya juga. Bentuk bibir dan organ-organ lainnya tentu diturunkan secara genetik mengikuti ayah, ibu atau kombinasi antara keduanya.

5. Bumil angkat jemuran, janin bisa terlilit tali pusat.
Yang benar, mengangkat barang-barang berat tentu saja tak dianjurkan bagi bumil. Dikhawatirkan jika ia terlalu lelah akan memengaruhi janin dalam perutnya. Secara teori dikatakan, jika janin aktif bergerak, tali pusat akan panjang dan memberi kemungkinan untuk terlilit.

6. Berhubungan seks bisa menyakiti janin atau membuat kepala janin kotor karena terkena sperma.
Hubungan seks saat hamil tidak akan menyakiti atau membahayakan janin. Perlu diketahui, terdapat tujuh lapisan perut, rahim, ketuban dan air ketuban, sehingga janin sangat terlindungi dari guncangan. Demikian juga sperma tidak dapat masuk ke dalam dan mengenai janin karena adanya selaput ketuban. Bakteri saja yang lebih kecil tidak bisa menembusnya, apalagi sperma yang notabene ukurannya jauh lebih besar dari bakteri.

7. Menutup lubang, seperti lubang semut, dapat menyulitkan proses bersalin.
Tentu tak ada kaitannya. Secara medis, lancarkan proses melahirkan bergantung pada tiga P, yaitu power, passage, passanger. Ukuran bayi (passanger) yang tak terlalu besar sehingga bisa melalui jalan lahir (passage), tapi perlu didukung kontraksi (power) agar jalan lahir bisa dibuka.

8. Tabu bila bumil menyiapkan perlengkapan bayi jauh hari atau sebelum melahirkan.
Menyiapkan perlengkapan untuk si kecil sebenarnya perlu dilakukan sebelum lahir, supaya bumil tidak kerepotan. Boleh dengan cara mencicil. Di luar menyiapkan perlengkapan bayi, bumil dan suami juga perlu mempersiapkan dana persalinan.

Memilih Obat Herbal Yang Aman

PENARIKAN beberapa jenis obat herbal mengundang ketakutan banyak orang. Sebagian yang masih ragu dengan khasiat herbal malah mundur dan mengurungkan niat. Kuncinya, cerdas memilih herbal aman.

Niat sehat malah jadi sakit, begitu kira-kira kalau Anda salah memilih obat herbal. Daripada terus dihantui rasa takut memanfaatkan herbal, menjadi tindakan lebih bijak bila kita mengetahui ciri-ciri obat herbal yang aman.

Pada dasarnya, ada tiga jenis herbal yang berada di bawah pengawasan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), yakni jamu atau obat tradisional, obat herbal berstandar, dan fitofarmaka.

“Paling sederhana adalah jamu. Jamu yang aman adalah jamu yang sudah terdaftar di BPOM, labelnya ‘jamu’; sudah diketahui komposisi dan khasiatnya, tapi belum dilakukan uji praklinis. Yang kedua, obat herbal berstandar BPOM yang punya label ‘jamu’ dan ada nomor pendaftarannya. Obat ini sudah diujikan pada hewan, yakni uji khasiat (efektivitas) dan uji keamanan (toksisitas),” papar Prof Dr Sumali Wiryowidagdo Apt dari Pusat Studi Obat Bahan Alam FMIPA UI pada Media Workshop ”Inovasi Teknologi Ekstraksi Bahan Alami Dalam Pembuatan Obat Herbal” di Kembang Goela Restaurant, Plaza Sentral Parking Lot, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Kamis (16/6/2011).

“Jenis terakhir, fitofarmaka adalah yang paling baik karena sudah melewati uji praklinis dan sudah diuji pada manusia sesuai klaimnya. Jika teruji baik, obat ini sama dengan obat modern,” tambahnya.

Guna mengetahui tingkat keamanan obat herbal, perhatikan petunjuk yang terdapat pada kemasan. Lewat kemasan ini pula, Anda bisa menentukan indikator lain keamanan suatu obat herbal.

“Kemasannya mencurigakan atau tidak, misalnya ada kesalahan cetak pada tulisan di merek atau botolnya. Lihat isinya, apakah masih bagus. Perhatikan juga, ada expired-nya enggak. Obat yang sudah terdaftar di BPOM pasti mencantumkan tanggal kedaluwarsa,” paparnya.

“Herbal bisa di mana saja, tapi lebih baik beli di toko khusus herbal atau apotik, jangan di warung. Kita enggak tahu kalau jamunya sudah dicampur obat-obat kimiawi. Pastikan diresepkan oleh dokter atau herbalis yang sudah memiliki sertifikat atau akreditasi,” imbuhnya.

Dan demi menjaga kualitas, Prof Sumali menegaskan, simpanlah obat herbal jauh dari paparan sinar sinar matahari langsung dan jaga kelembapan suhu tempat penyimpanan karena kualitas herbal sangat dipengaruhi oleh kadar air. (ftr)

Cara Kenalkan Makanan Sehat pada Anak


untuk mencegah buah hati rawan terhadap penyakit, maka makanan-makanan yang diasup harus terjamin kesehatannya. Bagaimana caranya?
Gampang saja, ajarkan mereka sejak dini untuk mengonsumsi makanan-makanan tanpa perasa buatan. Demikian tip dari Dr Dewi Yogo Pratomo MHt dalam bukunya "Hypnoparenting".

Si kecil sering kali tertarik dengan iklan makanan-makanan dari restoran cepat saji yang dikemas begitu menarik atau mereka juga lebih menyukai makanan-makanan siap saji yang tinggal digoreng dalam pembuatannya seperti sosis atau chicken nugget kemasan.

"Ingat lebih enak yang disebutkan anak-anak berarti makanan tersebut karena lebih manis yang berarti lebih banyak gula, dan lebih gurih yang bermaksud lebih banyak monosodium glutamat/msg," tulis Master of Hypnosis satu-satunya di Indonesia tersebut.

Nahasnya, sebagian orangtua pun lebih senang membiarkan anak mereka mengonsumsi makanan-makanan cepat saji karena anak jadi makan lebih banyak dan tidak repot.

Sebaiknya, menurut Dewi, sejak kecil anak tidak diajarkan rasa. "Biasakan anak mengonsumsi makanan yang tidak diberi perasa tambahan, baik garam maupun gula, apalagi penyedap karena itu merupakan sugesti yang ditanamkan orangtua sejak dini," sarannya.

"Jika makanan di lidah kita terasa hambar, percayalah, itu tidaklah sama dengan apa yang dirasakan lidah bayi Anda. Jika semenjak bayi mulai bisa makan MPASI (Makanan Pendamping ASI) sudah dibiasakan untuk menikmati cita rasa asli dari bahan makanan, dia tidak akan menjadi anak yang pemilih makanan saat besar," tutupnya.
(tty)

Penyebab Turunnya Kesuburan Laki laki

imageSelama ini, banyak orang menganggap bahwa kaum pria tidak perlu khawatir soal usia menikah dan punya anak. Sebab, masalah jam biologis dan tingkat kesuburan itu lebih banyak dialami oleh wanita, yang punya "tenggat waktu" hingga usia 35 tahun. Setelahnya, wanita akan menghadapi risiko lebih besar untuk memiliki anak. Ternyata, hal ini tidak sepenuhnya benar.

Belakangan ini ada banyak bukti yang memperlihatkan bahwa sebenarnya para pria juga memiliki jam biologisnya sendiri. Hanya saja, mereka mungkin tidak memahaminya atau malah mengabaikan fakta ini. Banyak pria tetap berpegangan, selama jumlah sperma yang dimiliki tetap banyak, mereka akan mampu memiliki anak hingga usia berapa  pun. Namun, lain pendapat Zita West, ahli fertilitas. "Kuantitas tidaklah menunjukkan kualitas. Selama 50 tahun terakhir, jumlah rata-rata sperma pria telah mengalami banyak penurunan, dari sekitar 113 juta per ml, menjadi 70 juta per ml," katanya. "Tidak hanya itu. Persentase sperma yang diproduksi dengan abnormalitas juga telah meningkat hingga 12 kali lipat."

Itu berarti, pria masa modern mengalami masalah baik dalam kuantitas maupun kualitas sperma, sejalan dengan pertambahan usia. Selain hal ini berpengaruh pada masalah infertilitas pada pasangan, kualitas sperma yang buruk juga dapat menjadi faktor utama penyebab keguguran dan masalah perkembangan pada bayi. "Menurunnya tingkat kesuburan pria terjadi pada usia 35. Sebanyak 15 persen pria akan butuh waktu lebih dari setahun untuk bisa memiliki anak," kata Dr Sue Ingamells, seorang konsultan di bidang obstetri dan ginekologi.

Penyebab turunnya tingkat kesuburan pria juga dapat dipengaruhi oleh paparan radikal bebas dari pola hidup sehari-hari. "Untuk itu, pria butuh perbaikan pada pola hidup, nutrisi, serta level antioksidan, agar dapat menangkal kerusakan akibat radikal bebas," kata West. Kebiasaan baik yang dapat meningkatkan antioksidan dalam tubuh antara lain adalah tidak merokok, minum alkohol, serta menyantap makanan yang diproses.



Sumber: NineMSN

10.000-an Balita Meninggal karena Virus Ini

imagePenyakit diare di Indonesia hingga kini masih teratas sebagai penyebab kematian bayi dan anak di bawah lima tahun. Di antara berbagai pemicu diare, rotavirus alias virus rota yang paling berbahaya dan mematikan. Vaksinasi menjadi pilihan untuk mengatasi.

Penyakit diare akibat virus rota cepat menular dan mudah menginfeksi sehingga tidak dapat diabaikan. Center for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat mencatat, ada 10.080 kematian tahun lalu akibat penyakit virus rota di Indonesia.

Data ini berkorelasi dengan tingkat kematian akibat diare, yang menurut Kementerian Kesehatan tertinggi menimpa bayi dan anak balita. Data tahun 2007 menunjukkan, 31,4 persen bayi dan 25,2 persen anak balita meninggal karena diare.

Penyebab kedua kematian kelompok usia itu adalah pneumonia. Sebaliknya, di dunia— menurut jurnal Lancet—diare merupakan pembunuh anak balita kedua setelah pneumonia.

Selain tingginya kematian, yang perlu diperhatikan adalah kekambuhan dan rendahnya kualitas hidup anak pascadiare. Hampir semua anak di dunia pernah mengalami setidaknya sekali infeksi virus rota saat berusia 3-5 tahun. Infeksi pertama setelah usia 3 bulan umumnya paling parah dan infeksi ulangan dapat terjadi kapan saja, demikian Attila Dewanti, dokter spesialis anak dari Brawijaya Women & Children Hospital, memaparkan dalam talkshow yang diselenggarakan rumah sakit itu bersama Mom n Jo, Sabtu (21/1), di Jakarta.

Kendala

Sifat dan pola penyebaran virus rota, sanitasi lingkungan yang buruk, dan layanan kesehatan tak memadai adalah beberapa faktor penyebab kasus ini terus meningkat.

Anak yang terinfeksi virus rota dapat mengeluarkan hingga 100 miliar virus dalam setiap gram tinjanya. Padahal, hanya dibutuhkan 10 virus untuk menginfeksi seorang anak lain.

Virus ini dapat bertahan hidup di tangan berjam-jam, di permukaan padat berhari-hari, serta tetap stabil dan infektif dalam tinja selama seminggu. Penularan virus ini melalui tangan, mainan, makanan, dan air yang tercemar. Biasanya virus ini merebak pada musim dingin atau hujan dan berinkubasi selama 1-4 hari.

Anak usia balita merupakan kelompok paling rentan. Untuk mencegah, perlu pembentukan kekebalan sejak dini, bahkan ketika bayi dalam kandungan.

Kekebalan tubuh terbangun melalui asupan nutrisi memadai mulai dari saat ibu hamil hingga menyusui, penerapan pola hidup sehat, dan pemberian vaksinasi sesuai jadwal, dokter spesialis obstetri ginekologi, UF Bagazi, menguraikan.

Menurut Attila, banyak faktor yang mendorong pemberian vaksin kepada bayi dan anak balita di Indonesia untuk mencegah diare akibat virus rota. Kurangnya asupan gizi pada bayi dan anak balita umumnya di Indonesia membuat mereka tak punya daya tahan tubuh optimal.

Ketika mereka terjangkiti virus rota, akan muncul gejala demam, diare hebat dan banyak muntah, hingga terjadi dehidrasi. Karena anak sering muntah, orangtua mengalami kesulitan memberikan cairan rehidrasi oral di rumah.

Karena itu, anak perlu diberi cairan lewat infus dan perawatan di rumah sakit atau puskesmas agar tidak berakibat fatal. Satu dari 70 anak dengan infeksi virus ini menjalani perawatan di rumah sakit.

Sayangnya, layanan pengobatan tidak selalu ada di daerah dan sering tak terjangkau oleh masyarakat kurang mampu. Hal ini menyebabkan pasien anak tak tertangani dan meninggal.

Saat ini tidak ada obat untuk infeksi virus rota. Pengobatan hanya sebatas mencegah dehidrasi dengan terapi rehidrasi.

Vaksinasi

Melihat berbagai masalah yang ada, vaksinasi menjadi salah satu solusi. Upaya pencegahan ini relatif lebih murah dibandingkan pengobatan. Program vaksinasi ini direkomendasikan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) untuk dilaksanakan di Indonesia.

”Vaksin virus ini telah direkomendasikan oleh IDAI untuk diberikan kepada bayi dan anak balita di Indonesia,” kata Attila.

Dengan keluarnya rekomendasi itu, anak umur 0 hingga 18 tahun total mendapat 14 jenis vaksin.

Rekomendasi vaksinasi virus rota dan pneumonia dikeluarkan IDAI Juni tahun lalu. Pemberlakuan vaksinasi ini didasari banyak dan cepatnya virus tersebut menginfeksi anak balita dan anak prasekolah.

Vaksin virus rota dapat diberikan sedini mungkin. IDAI merekomendasikan pemberian dosis pertama pada bayi usia dua bulan. Vaksinasi diberikan tiga kali. Untuk lanjutannya pada usia 4 bulan dan 6 bulan.

Menurut CDC, vaksin rotavirus sangat efektif, yaitu 85 hingga 98 persen dalam mencegah penyakit rotavirus pada bayi dan anak balita. Selain itu, vaksin ini juga mampu secara substansial menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat penyakit ini di Asia.

Sumber :

Kompas Cetak

Dampak Negatif Memukul Anak


Memukul atau menampar anak sebagai hukuman, ditambah perkataan "supaya anak jera", bukan tindakan tepat, apalagi dibenarkan. Memukul hanya membuat anak tidak jera. Yang paling dikhawatirkan, kebiasaan orangtua memukul malah akan membuat anak menjadi trauma. Harga diri mereka pun bisa jatuh. Bukan tidak mungkin, anak malah merasa dirinya jelek atau jahat.

Keinginan tangan untuk memukul pantat anak maupun menampar harus segera diikat, kalau perlu diborgol sekalian. Memukul, yang disebut orangtua sebagai hukuman (dalam bentuk fisik), akan memberi banyak pengaruh bagi anak. Bukan pengaruh positif, melainkan negatif.

Sebut saja Ari. Perempuan berusia 36 tahun itu suka memukul anaknya yang masih balita. Dia menyebutnya sebagai hukuman karena anaknya sering rewel tanpa alasan. Anaknya yang lain, sudah duduk di bangku sekolah dasar, juga tak luput dari pukulan. Alasannya, anaknya tak mau mengerjakan PR.

Tidak bermakna

Menurut Elly Risman, PSi, pukulan menjadi tidak bermakna kalau terlalu sering dilakukan. Kalaupun terpaksa dilakukan, jelaskan alasannya. Jangan memukul kalau hanya bertujuan untuk menyakiti. Meski demikian, Elly sangat menentang anak dipukul.

Mengapa anak sebaiknya tidak dipukul? "Pada dasarnya pukulan tidak mengajarkan kepada anak atas apa yang seharusnya dia lakukan. Malah, hukuman dalam bentuk pukulan akan membuat anak merasa jelek atau jahat," ujar psikolog dari Yayasan Kita dan Buah Hati ini.

Dampak lain, seperti disebutkan Kidshealth, memukul akan mengajarkan anak bahwa oke-oke saja untuk memukul saat marah. Lebih buruk, memukul menjadi cara untuk menyelesaikan masalah atau melampiaskan emosi, dan ini akan membahayakan anak.

Ketimbang mengajarkan anak untuk mengubah perilaku, memukul membuat mereka takut dengan orangtua. Bagi anak yang mencari perhatian, mereka akan mencari berbagai cara untuk mendapat pukulan dari orangtuanya. Ini karena anak menganggap, perhatian negatif ini jauh lebih baik daripada tidak mendapat perhatian sama sekali.

Harga diri jatuh

"Pukulan memang hanya akan menghasilkan emosi negatif, bukan positif. Hukuman dengan pukulan membuat anak trauma, marah, menjatuhkan harga dirinya, dan akhirnya membuat mereka dendam," ujar Elly.

Fungsi kognitif anak juga ikut berpengaruh. Penelitian yang dilakukan di Duke University terhadap bayi 12 bulan yang dipukul menunjukkan skor tes kognitif yang lebih rendah dibandingkan dengan anak yang tidak dipukul, setelah mereka berusia tiga tahun. Memukul pun memiliki efek merusak pada perkembangan perilaku dan mental anak.

Lisa Berlin, pimpinan penelitian dari Center for Child and Family Policy, Duke University, dan koleganya, menjumpai bahwa anak yang dipukul pada usia satu tahun cenderung memiliki perilaku lebih agresif pada usia dua tahun. Anak-anak ini pun pada pengukuran kemampuan berpikir di usia tiga tahun tidak menunjukkan sebaik anak lain yang tidak dipukul. Studi tersebut dipublikasikan pada jurnal Child Development seperti dikuti CNN Health.

"Yang kita bicarakan adalah bayi dan anak balita. Saya pikir, secara kognitif, mereka belum mengerti tentang benar-salah atau hukuman, serta manfaat dari pukulan tersebut," tambah Lisa.

Lebih agresif

Sementara itu, penelitian lain yang dilakukan di Tulane University menemukan, dari sekitar 2.500 anak yang diteliti yang biasa atau sering dipukul pada usia tiga tahun, mereka cenderung lebih agresif ketika menginjak usia 5 tahun.

"Biasanya, ketika anak lebih agresif, mereka menjadi lebih banyak dipukul dan terjadilah lingkaran yang tidak berkesudahan," imbuh Elly.

Memberi hukuman pada anak, apalagi dengan memukul, sangat tidak disarankan oleh Elly. "Baik pemberian hukuman maupun hadiah, kurang tepat diberikan kepada anak. Juga kurang efektif karena itu semua datang dari luar," kata Elly.

Hukuman yang diberikan tidak mengajarkan kontrol internal dari diri anak supaya perilaku yang keliru tidak dilakukan lagi. Hukuman tidak mengajarkan bagaimana anak bertingkah laku sesuai harapan orangtua dan bagaimana ketika situasi sama muncul lagi.

"Sebenarnya, mengapa sih kita memberi hukuman?" tanya Elly. "Hukuman lanjutnya bertujuan untuk membuat anak menyesal, atau menyakitinya karena dia telah berkelakukan tidak baik atau tidak pantas, dengan harapan agar anak tidak mengulangi perbuatannya lagi."

Kemudian, agar efektif, hukuman harus sangat keras sehingga anak tidak mengulangi kelakuannya. Padahal, dari semua itu, hukuman malah melatih anak takut kepada orangtua, melawan orangtua, berbohong, melakukan sesuatu tanpa ketahuan atau tertangkap basah, dan lain sebagainya.

Paling dikhawatirkan, hukuman malah akan merusak harga diri anak sehingga tidak efektif kalau sering digunakan. Ketimbang hukuman, orangtua sebaiknya memberi aturan yang jelas dengan melibatkan anak. Aturan menjadi seperangkat harapan terhadap anak, berupa panduan dan batasan, dengan dasar kepedulian serta cinta. Ketika anak bertingkah laku tidak sesuai harapan, coba hentikan, lihat, dengar, dan pikirkan perasaan yang mendorong perbuatannya. Selain itu, orangtua juga harus membantu anak mengembangkan kemampuan yang diperlukan untuk mencegah mereka mengulangi tingkah laku negatif. (Diana Y Sari)

8 Cara melatih anak lebih PeDe

Salah satu tujuan yang ingin dicapai orangtua pastilah memiliki anak dengan kemampuan yang serba bisa dan mandiri. Namun, salah satu syarat untuk memiliki anak yang percaya diri dan bisa melakukan berbagai hal positif adalah adanya keyakinan dan kemauan si anak untuk mampu melakukan apa pun. Lalu bagaimana cara mendidik anak agar memiliki kepercayaan diri dan "always can do"?

1. Temukan kemampuan unik anak
Ada banyak kesempatan untuk membantu anak-anak menemukan bakat dan kemampuannya. Dukung sepenuhnya kemampuan dan bakat yang mereka miliki. Mungkin hal ini terlihat sederhana, namun terbukti kuat mampu membantu anak-anak lebih percaya diri dan mampu mengembangkan bakat mereka. Semakin anak-anak mampu mengenali kemampuan unik mereka, akan semakin tinggi kepercayaan diri yang mereka miliki. Bantu anak menyadari kemampuannya sendiri tanpa memaksanya melakukan hal yang tidak diinginkan, dan hentikan membandingkan kemampuan mereka dengan saudara lainnya.

2. Apresiasi prestasi dan hasil kerja keras mereka
Tidak ada yang dapat membangkitkan kepercayaan diri dibanding dengan sebuah penghargaan atau perayaan atas prestasi anak. Hargai setiap usaha dan prestasi yang dicapai anak, sekecil apapun itu. Buat catatan kecil atau jurnal yang mencatat keberhasilan anak-anak mencapai sesuatu, misalnya belajar naik sepeda, belajar matematika, atau berani tidur sendiri, dan pastikan Anda juga memberikan tanggalnya. Buku ini bisa menjadi kenangan tak ternilai tentang prestasi anak, bahwa ia ternyata sanggup melakukan berbagai hal dengan baik. Jika anak belum bisa membaca, gunakan foto dan tempel pada buku jurnal Anda. Kegiatan ini akan membantu anak untuk melacak keberhasilannya, dan mengembangkan keinginannya untuk tetap maju dan berhasil.

3. Fokus pada tindakan, bukan penampilan
Penelitian terbaru menunjukkan, terlalu banyak anak-anak -terutama anak perempuan- yang lebih berfokus pada penampilan dan bukan pada apa yang mampu mereka lakukan. Bantu anak-anak untuk lebih berfokus pada tindakan dan kegiatan positif lain yang bisa dilakukan ketimbang sekadar menonjolkan penampilan. Jadilah role model dengan mendiskusikan tujuan dan keinginan Anda terhadapnya, dan berbagi kebanggaan Anda atas setiap prestasi mereka. Dengan membicarakan tentang prestasi dan bukan berfokus pada penampilan, Anda membantu anak untuk mengembangkan keyakinan pribadi atas prestasi dan kemampuannya.

4. Puji anak dengan spesifik
Semua orang menyukai pujian, tak terkecuali anak-anak. Namun perlu diingat bahwa tidak setiap pujian kecil bisa meningkatkan harga diri sang anak. Anda tentu juga tak ingin anak menjadi seseorang yang haus pujian. Ungkapkan pujian yang membangun kepercayaan diri anak. Puji anak saat ia benar-benar menunjukkan bakatnya dengan baik, dan juga gunakan kata "karena" dalam pujian Anda sehingga menjadi lebih spesifik. Puji keahlian anak yang sama selama beberapa minggu ketika mereka benar-benar melakukan hal yang baik. Hal ini menyebabkan anak akan percaya pada "pesan" dan mengadopsinya untuk membentuk keyakinan baru tentang kemampuan dirinya.

5. Tonjolkan sisi positif mereka
Cara yang ampuh untuk membantu anak mengembangkan keyakinan diri yang lebih kuat adalah dengan mengajarkan self-talk positive. Tidak ada salahnya untuk sedikit menonjolkan diri Anda tanpa bermaksud untuk menyombongkan diri. Beri contoh kepada anak beberapa tindakan positif yang Anda banggakan dan kemudian akui perbuatan tersebut di depan anak. Misalnya, "Ibu pikir, Ibu tidak bisa memasak sup ini, tapi ternyata bisa dan rasanya enak." Awalnya mungkin sedikit aneh, namun hal ini bisa membantu anak untuk mengembangkan pikiran bahwa mereka pun mampu melakukan hal-hal yang awalnya mereka pikir tidak mampu mereka lakukan.

6. Tempel slogan motivasi
Pikiran negatif dapat dengan mudah mematikan kepercayaan diri dan kemampuan anak. Tak ada salahnya untuk menanamkan pikiran dan slogan positif dalam hidup keseharian. Misalkan tempel slogan motivasi dan niat positif untuk anak di kamarnya, atau di tempat yang mudah terlihat olehnya. Ini cara yang sederhana namun efektif untuk mendorong anak berpikir lebih postif tentang diri mereka.

7. Hindari selalu membantu mereka memecahkan masalahnya

Tidak ada orangtua yang ingin anak-anaknya kecewa, dan hal ini seringkali membuat orangtua mencoba untuk membantu memecahkan berbagai permasalahan anak. Namun, berhati-hatilah karena hal ini ternyata bisa membuat anak menjadi tidak mandiri dan selalu tergantung pada Anda. Sebaiknya, ambil langkah untuk membantu mereka hanya ketika benar-benar diperlukan saja.

8. Bantu anak belajar dari kesalahan
Setiap orang pasti sering membuat kesalahan, dan pasti Anda butuh kesempatan untuk memperbaikinya. Demikian pula dengan anak. Ketika mereka melakukan kesalahan, sebaiknya jangan menghakimi mereka, tapi bantu mereka untuk belajar dari kesalahannya. Setelah itu, bantu mereka untuk mencapai tujuannya.

Sumber: GALTime

Lima Tips Mempersiapkan Kehamilan

Kehadiran anak dalam kehidupan pernikahan menjadi dambaan. Tak hanya mendamba, pasangan menikah juga perlu melakukan perencanaan yang lebih matang dan holistik untuk menyiapkan kehamilan. Ada tanggungjawab besar di balik kehamilan dan kehadiran anak dalam keluarga. Setiap orangtua tentunya menginginkan kualitas hidup terbaik untuk anak-anaknya, kini dan nanti.

Tanyakan kembali ke dalam diri, "Sudah siapkah punya anak?", dengan mematangkan lima hal yang dituliskan Alana Brager berikut ini, sebelum merencanakan program kehamilan.

1. Tabungan
Pastikan Anda memiliki dana cadangan sebesar tiga hingga enam bulan dari total pengeluaran bulanan. Penghasilan keluarga juga sebaiknya stabil. Sehingga Anda bisa membeli pakaian yang layak untuk anak, perlengkapan bayi, kereta dorong dan berbagai perlengkapan bayi lainnya yang menunjang tumbuh-kembang anak. Setidaknya, Anda dan pasangan bisa mengukur diri dan merasa aman dengan kondisi finansial. Cek kembali keuangan Anda, perhitungkan apa yang bisa dan tidak bisa Anda beli atau miliki.

2. Tempat tinggal
Menambah anggota keluarga artinya membutuhkan ruang lebih layak, meski tak selalu harus lebih besar. Jadi pertimbangkan kembali tempat tinggal Anda saat ini, apakah bisa untuk menampung anggota keluarga baru. Perhatikan juga kondisi lingkungan sekitar. Cari lingkungan yang baik dan aman untuk tumbuh kembang anak.

3. Waktu

Anak masih bergantung dengan kedua orangtuanya. Karenanya, jika siap memiliki anak, Anda dan pasangan juga perlu bersiap memberikan perhatian penuh untuk si kecil. Mendampingi dan memantau tumbuh kembangnya.

Sebaiknya Anda tak pulang terlalu larut dari kantor sesuka hati. Saat akhir pekan, Anda perlu menikmati waktu bersama dan tak lagi asyik sendirian menikmati "me time" seperti biasanya. Anda perlu menyadari sepenuhnya, bahwa Anda perlu terlibat dalam merawat dan mengasuh anak, jika ingin memiliki anak yang bahagia dengan kasih sayang penuh dari kedua orangtuanya.

4. Hasrat personal
Anak membutuhkan cinta, perhatian, kasih sayang yang konstan, tak bisa setengah-setengah. Jika saat ini Anda masih menggebu untuk bisa liburan bareng teman setiap akhir pekan, atau menikmati kesendirian di destinasi favorit, hidup bebas tanpa batas, maka pikirkan ulang keinginan untuk memiliki anak.

Tak ada salahnya jika pasangan muda masih ingin bertualang bersama, tanpa ada tanggungjawab terhadap siapa pun di baliknya. Namun Anda dan pasangan hanya bisa melakukan hal ini sebelum memiliki anak. Anak membutuhkan orangtuanya untuk tumbuh dan berkembang. Untuk itu, perhatian dan prioritas Anda dan pasangan menentukan kualitas tumbuh kembangnya.

5. Hubungan pernikahan

Kehadiran anak menjadi penyelamat pernikahan. Tak sedikit pandangan seperti ini ditemui pada pasangan yang bermasalah dengan hubungan pernikahannya. Padahal, memiliki anak disaat hubungan pernikahan sedang terguncang bukan menjadi solusi justru melipatgandakan stres.

Jika hubungan pernikahan sedang rapuh, kuatkan lebih dahulu hubungan pernikahan sebelum memutuskan menjalani program kehamilan. Pengasuhan anak akan semakin kuat dan positif di dalam hubungan penikahan yang kuat. Lakukan pembicaraan dua arah dengan pasangan dan cari solusi masalah yang terjadi dalam pernikahan. Setelahnya, lakukan perencanaan matang untuk memiliki keturunan.

Sumber: www.huffingtonpost.com

Tanda Hamil selain Terlambat Datang Bulan


Terlambat datang bulan menjadi tanda yang paling mudah dikenali untuk mengetahui apakah Anda hamil atau tidak. Lalu, untuk memastikan, Anda bisa menggunakan alat uji kehamilan. Meski begitu, tanda-tanda kehamilan juga dapat dikenali dari sejumlah perubahan fisik, serta beberapa gejala yang kerap dialami perempuan sebagai penanda kehamilan. Dengan mengenali tanda kehamilan, tentu Anda akan lebih berhati-hati dan mempersiapkan kehamilan lebih baik lagi, apalagi bagi Anda yang begitu menanti kehadiran buah hati.

* Payudara atau puting terasa nyeri, bengkak.
Payudara akan terasa berat, sakit atau nyeri bila dipegang. Dua minggu pertama setelah kehamilan dimulai, payudara ibu mulai membesar dan berubah sebagai persiapan untuk memproduksi susu. Penyebab utama dari perubahan ini adalah meningkatnya produksi hormon estrogen dan progesteron.

* Kelelahan yang sangat. Minggu-minggu pertama masa kehamilan, tubuh ibu bekerja dengan sangat keras memompa hormon, memproduksi lebih banyak darah untuk membawa nutrisi bagi janin. Untuk mengakomodasi meningkatnya aliran darah ini, jantung ibu memompa lebih keras, lebih cepat. Ditambah lagi, hormon progesteron yang merupakan depresan alami bagi sistem saraf pusat, sehingga adanya hormon ini dalam jumlah banyak menyebabkan kantuk. Sebagai tambahan, adanya kemungkinan hamil bisa menyebabkan timbulnya perasaan khawatir yang dapat menyerap energi serta menyebabkan sulit tidur.

* Flek darah atau nyeri perut.
Ada juga perempuan yang mengalami flek atau sedikit pendarahan pada awal kehamilan, sekitar 10-14 hari setelah pembuahan, dikenal sebagai pendarahan implantasi. Pendarahan seperti ini biasanya terjadi dalam jumlah sedikit dan terjadinya hanya sebentar.

* Mual dengan atau tanpa muntah. Kebanyakan mual mulai terasa sekitar minggu ke-4 sampai ke-8 kehamilan, tapi muntah-muntah bisa dimulai pada dua minggu pertama setelah kehamilan. Hal ini terjadi karena peningkatan drastis kadar estrogen yang diproduksi oleh plasenta dan janin. Hormon ini menyebabkan pengosongan usus berjalan lebih lambat, sehingga mengakibatkan mual muntah. Ibu juga menjadi lebih sensitif terhadap bau, sehingga berbagai macam bau seperti bau masakan, kopi, bahkan parfum bisa memicu mual.

* Tidak suka atau ingin makan satu makanan tertentu. Biasa disebut ngidam. Seperti juga gejala yang lain, keinginan untuk makan makanan tertentu ini bisa diakibatkan oleh perubahan hormon. Ibu hamil biasanya mengalami perubahan selera makan, terutama pada trimester pertama, akibat perubahan hormon yang masih sangat kuat.

* Sering buang air kecil. Banyak bumil jadi lebih sering pergi ke kamar kecil daripada biasanya. Perubahan hormonal pada trimester pertama menyebabkan semua sistem dalam tubuh naik, termasuk produksi urine juga jadi lebih banyak.

* Sakit kepala. Pada masa awal kehamilan, sakit kepala disebabkan oleh meningkatnya sirkulasi darah akibat perubahan hormon.

* Konstipasi. Peningkatan jumlah hormon progesteron menyebabkan proses pencernaan berjalan lambat, sehingga makanan lebih lambat masuk ke saluran pencernaan, yang bisa menyebabkan terjadinya konstipasi atau sembelit.

* Merasa pusing dan melayang. Sensasi ini biasanya akibat perubahan sirkulasi saat pembuluh darah dalam tubuh membesar dan tekanan darah menurun. Pada awal kehamilan, rasa pusing ini juga bisa disebabkan oleh rendahnya gula darah.

* Suhu basal tubuh meningkat. Suhu basal tubuh adalah temperatur yang diambil secara oral pada saat pertama kali bangun pagi. Temperatur ini akan sedikit meningkat setelah masa ovulasi dan menetap pada level tersebut sampai mendapatkan haid berikutnya. Jika ibu sering mencatat suhu basal tubuh untuk menentukan kapan mengalami ovulasi, ibu akan melihat, peningkatan selama lebih dari dua minggu berarti telah terjadi kehamilan. Selanjutnya, suhu basal tubuh akan tetap tinggi selama masa kehamilan.

Awas, TBC mengintai Ibu Hamil

keahamilanKuman Tuberculosis (TBC) sangat mudah menular, terutama saat daya tahan tubuh melemah. Salah satu penyebab daya tahan tubuh menurun adalah kehamilan, yang membuat risiko tertular TBC naik 70 persen hingga 6 bulan setelah melahirkan.

Sebuah penelitian yang dimuat di American Journal of Respiratory mengugnkap, risiko penularan TBC naik 70 persen pada masa kehamilan hingga 6 bulan setelah melahirkan. Karena itu, para bidan diimbau untuk mewaspadai gejala TBC pada masa-masa tersebut.

Penelitian yang melibatkan 190.000 perempuan tersebut dilakukan dalam periode yang cukup panjang, yakni 12 tahun. Dalam periode tersebut, terjadi 15,4 kasus penularan TBC di tiap 100.000 partisipan dari kelompok ibu hamil dan usai melahirkan sedangkan rata-rata secara umum angkanya hanya 9,1.

Diyakini, peningkatan risiko pada ibu hamil dan setelah melahirkan terjadi akibat penurunan sistem kekebalan tubuh. Bukan hanya TBC, pada masa-masa tersebut perubahan komposisi hormonal yang dialami perempuan membuatnya rentan terhadap segala jenis kuman.

Terkait temuan ini, Health Protection Agency telah mengimbau para bidan di seluruh Inggris untuk mewaspadai setiap gejala yang mengindikasikan infeksi TBC pada ibu hamil. Gejala infeksi TBC antara lain batuk yang tidak sembuh-sembuh hingga lebih dari 3 minggu.

"TBC bisa dicegah dan juga bisa diobati, tetapi akibatnya sangat fatal kalau dibiarkan begitu saja," ungkap Prof Ibrahim Abubakar, seorang peneliti TBC dari University of East Anglia saat mengomentari imbauan tersebut seperti dikutip dari Dailymail, Jumat (9/12/2011).

Pengobatan TBC biasanya memakan waktu sangat lama, antara 6-9 bulan. Banyak pasien tidak menyelesaikan pengobatannya karena merasa bosan, lalu memicu resistensi atau kekebalan kuman TBC sehingga butuh obat lain yang lebih kuat dan mahal untuk mematikannya. detikhealth